BID'AH
kirim ke teman | versi cetak | komentar | Selasa, 01 Desember 2009 - oleh : Wahyu |
PENGERTIAN BID’AH
1. Menurut Bahasa.
1. Menurut Bahasa.
البِدْعة اسمٌ من ابتدَع الأمرَ إذا ابتدأه وأحْدثه ) المغرب في ترتيب المعرب - (ج 1 / ص 62)
Bid’ah adalah bentuk isim (kata benda) berasal dari fi’il (kata kerja) ibtada’al amra yang berarti ia telah memulai suatu perkara dan mengadakannya/menciptakannya yang baru
البدعة: كل محدث جديد على غير مثال سابق
) معجم لغة الفقهاء -ج 1/ص 104(
Bid’ah ialah sesuatu yang diadakan, yang baru dengan tidak ada contoh yang mendahuluinya.
Dari kata bid’ah, terbentuklah lafadz al-Badi’ sebagai salah satu nama Allah swt yang berarti Pencipta sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Allah swt berfirman:
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (البقرة:117)
Allah Pencipta (yang sebelumnya tidak ada) langit dan bumi, dan bila dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" lalu jadilah ia.
Lafadz bid’ah juga digunakan oleh Allah swt untuk menjelaskan keberadaan Nabi Muhammad saw bahwa beliau bukanlah seorang bid’an (orang yang tidak didahului Rasul sebelumnya)
Allah swt berfirman:
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ [الأحقاف/9]
Katakanlah: "Aku bukanlah Rasul yang pertama ( tidak ada sebelumku) di antara rasul-rasul
Bid’ah dalam pengertian bahasa dibagi menjadi 2, bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang buruk (sayyi’ah). Jika ia sesuai dengan sunnah, maka itu yang baik tetapi jika bertentangan dengan sunnah maka itulah bid’ah yang buruk.
Ibnu Rajab berkata, “ Adapun yang terdapat dalam perkataan ulama’ salaf yang menganggap baik sebagian bid’ah dimaksudkan bid’ah dalam pengertian bahasa, bukan dalam pengertian istilah. Di antaranya perkataan Umar tatkala memerintahkan kaum muslimin untuk melaksanakan shalat tarwih pada bulan Ramadlan di satu tempat dengan dipimpin seorang Imam, maka beliau berkata:
Umar bin Khathab berkata:
[ نِعْمَت البِدْعة هذه ]
2. Menurut Istilah
a. Menurut Al-Jauhariy, bid’ah ialah:
الحدث في الدين بعدالاكمال
“Sesuatu yang baru dalam agama sesudah sempurna”.
b. Menurut Al-Fairuzabadiy, bid’ah ialah:
الحدث في الدين بعدالاكمال اومااستحدث بعدالنبي ص.م. من الاهواء الاعمال
“Sesuatu yang baru dalam agama sesudah sempurna, atau sesuatu yang baru diadakan sesudah Nabi saw, karena ingin memperturutkan hawa nafsu atau memperbanyak amal”.
c. Abu Syamah berkata:
وقد غلب لفظ البدعة على الحدث المكروه في الدين وهومالم يكن في عصرالنبي ص.م.ممافعله اواقر عليه اوعلم من قواعدشريعته
“Lafadz bid’ah itu biasa digunakan untuk menyebut sesuatu yang baru, yang dibenci di dalam agama; bid’ah ialah apa saja yang tidak ada pada masa Nabi saw, baik berdasarkan pelacakan terhadap apa yang ia perbuat atau yang ia tetapkan ataupun berdasarkan apa yang dapat diketahui dari kaidah-kaidah agamanya”.
d. Sebagian Ulama Hadis mengatakan:
البدعة هي الأمرالمحدث في الدين: عقيدة اوعبادة اوصفة للعبادة لم يكن عليهارسول الله ص.م.
“Bid’ah ialah urusan yang diada-adakan dalam agama, baik berupa aqidah, ibadah ataupun sifat ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw”.
e. Sebagian Ulama lagi mengatakan:
البدعة هي الزيادة في الدين اونقصان منه الحادثان بعدالصحابة بغيراذن من الشارع لاقولاولافعلاولاصريحاولااشارة ولايتناول العادات اصلا بل تقتصر على بعض الاعتقادات وبعض صورالعبادات
“Bid’ah ialah tambahan dalam agama atau pengurangan dari agama yang baru terjadi sesudah masa sahabat tanpa izin dari pembuat syari’at, tidak dengan perkataan, perbuatan, terang-terangan dan tidak pula dengan isyarat. Jadi ia tidak mencakup urusan-urusan adat sama sekali, tetapi terbatas pada sebagian urusan I’tiqad dan rupa-rupa ibadah”.
Dari ta’rif-ta’rif tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa bid’ah itu sesuatu yang baru dalam agama, baik berupa i’tiqad maupun ibadah atau sesuatu yang menyerupai ibadah, yang belum pernah ada atau belum pernah terjadi pada masa Nabi atau pada masa sahabat. Atau tambahan atau pengurangan dalam agama yang terjadi sesudah masa sahabat dengan tidak mendapat dukungan dari Allah atau Rasulullah, baik dukungan perkataan ataupun perbuatan, baik dukungan pernyataan ataupun isyarat. Bid’ah sama sekali tidak mencakup urusan adat. Ia hanya mencakup urusan i’tiqad dan ibadat.
Dengan perkataan lain, bid’ah ialah:
الأمرالدينى الذى لم يكن في عصرالنبي ص.م. ولافي عصرالصحابة
“Urusan agama yang pada masa Nabi dan pada masa sahabat tidak ada”.
Atau:
الأمرالدينى الذى لم يكن النبي صل الله عليه وسلم عليه واصحابه
“Urusan agama yang tidak diajarkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya”
Atau:
الأمرالدينى الذى لم يدل عليه دليل شرعي سواء اكان من الكتاب اومن السنة اومما اجتهد عليه الصحابة
“Urusan agama yang tidak ditunjukkan oleh dalil syara’, baik dari Al-Kitab, dari As-Sunnah ataupun dari hasil ijtihad para sahabat”.
C. UNSUR-UNSUR BID’AH
Suatu perkara dikatakan bid”ah jika terhimpun di dalamnya 3 unsur, yakni:
1. Al-ihdats sesuatu yang baru
Yang dimaksud dengan al-ihdats adalah mendatangkan, membuat-buat sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya.
Rasulullah saw bersabda.
فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة .(رواه أبو داود و غيره)
2. Sesuatu yang baru itu disandarkan pada ad-din (agama)
Rasulullah saw:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس فيه فهو رد
) صحيح البخاري - (ج 2 / ص 959(
"Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara dalam urusan (agama) kami ini yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak.”
Yang dimaksud dengan amruna (urusan kami) dalam Hadist di atas adalah amru ad-din (urusan agama) dan syari’atnya, sesuai dengan tugas diutusnya Rasulullah saw. Jadi, suatu perkara dikatakan bid’ah jika sesuatu yang baru tersebut disandarkan kepada syari’at dan dihubungkan dengan ad-din (agama) dalam salah satu sisinya. Makna tersebut bisa tercapai bila mengandung salah satu dari tiga unsur berikut ini. Pertama, perkara tersebut dilakukan dalam rangka ta’abbudi (beribadah) dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan. Kedua, perkara tersebut keluar/ menentang (aturan) agama. Ketiga, perkara tersebut juga mencakup segala hal yang dapat menggiring kepada terciptanya bid’ah baru.
Maka, hal-hal yang baru dalam masalah-masalah materi dan perkara-perkara dunia yang tidak menjadi tugas terutusnya Rasulullah saw, tidak termasuk bid’ah.
Dalam hal ini beliau mengatakan:
أنتم أعلم بأمور دنياكم) جامع الأحاديث - (ج 41 / ص 494(
“Kamu sekalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.”
Begitu juga perbuatan-perbuatan maksiyat dan kemungkaran-kemungkaran yang baru, yang belum pernah terjadi pada masa dahulu, bukan dikatakan bid’ah, kecuali jika ia dilakukan dengan tujuan atau cara yang menyerupai taqarrub kepada Allah swt atau ketika melakukannya bisa menyebabkan adanya anggapan bahwa hal itu termasuk bagian agama.
3. Hal yang baru tersebut tidak berlandaskan syari’at, baik secara khusus maupun umum.
Rasulullah saw bersabda:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد. (رواه مسلم)
"Barangsiapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami perintahkan (dalam agama), maka ia tertolak”
Dengan batasan ini maka tidak termasuk dalam pengertian bid’ah hal-hal baru yang berhubungan dengan agama yang mempunyai landasan syar’i yang umum ataupun yang khusus. Landasan syar’i yang umum adalah hal-hal yang ditetapkan melalui al-mashalih al-mursalah, seperti pengumpulan al-Qur’an oleh para sahabat. Adapun contoh yang khusus adalah pelaksanaan shalat tarawih secara berjamaah pada zaman Umar bin Khatab
D. DASAR-DASAR PENETAPAN BID’AH
Ada tiga dasar pokok untuk menetapkan semua macam bid’ah.
1. Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan.
Hal ini meliputi beberapa kaidah sebagai berikut:
1. كل عبادة تستند الى حديث مكذوب على رسول لله صعلم فهي بدعة
Setiap ibadah yang berlandaskan hadits maudhu’(palsu) yang disandarkan kepada Rasulullah adalah bid’ah.
2. كل عبادة تستند الى الرأي المجرد والهوى فهي بدعة كقول بعض العلماء أو العباد أو عادات بعض البلاد أو الحكايات والمنامات
Setiap ibadah yang berlandaskan pada pendapat semata dan hawa nafsu, maka itu bid’ah, seperti pendapat sebagian ulama atau ‘ubbad (ahli ibadah) atau kebiasaan sebagian daerah atau sebagian hikayat dan manamat (apa yang didapatkan di dalam tidur).
3. اذا ترك الرسول صعلم فعل عبادة من العبادات مع كون موجبها وسببها المقتضى لها قائما ثابتا والمنع منها منتفيا فان فعلها بدعة
Jika Rasulullah meninggalkan suatu ibadah, padahal faktor dan sebab yang menuntut adanya pelaksanaan itu ada dan faktor penghalangnya tidak ada, maka melaksanakan ibadah itu adalah bid’ah. Seperti mengumandangkan adzan untuk shalat Tarwih.
4. كل عبادات ترك فعلها السلف الصالح من الصحابة فان فعلها فهي بدعة
Semua ibadah yang tidak dilakukan oleh As-Salaf Ash-Shalih dari kalangan sahabat, maka melakukan perbuatan tersebut adalah bid’ah.
5. كل عبادة مخالفة لقواعد الشريعة ومقاصدها فهي بدعة
Semua ibadah yang bertentangan dengan kaidah-kaidah dan tujuan-tujuan syari’at adalah bid’ah.
6. كل تقرب الى الله بفعل شيئ من العادات أو المعاملات من وجه لم يعتبره الشارع فهو بدعة
Semua taqarrub kepada Allah dengan adat kebiasaan atau muamalah dari sisi yang tidak dianggap (tidak diakui) oleh syari’at adalah bid’ah
7. كل تقرب الى الله بفعل ما نهى عنه سبحانه فهو بدعة
Setiap taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah adalah bid’ah.
8. كل عبادة وردت فى الشرع على صفة مقيدة فتغييرهذه الصفة بدعة
Setiap ibadah yang dibatasi dalam syari’at, maka merubah tata cara (batasan) ini adalah bid’ah.
9. كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان ومكان أو نحوهما بحيث يوهن هذا التقييد أنه مقصود شرعا من غير أن يدل الدليل العام علي هذا التقييد فهو بدعة
Setiap ibadah muthlaq yang tetap dalam syari’at dengan dalil umum, maka membatasi kemuthlaqan ibadah ini dengan waktu atau tempat tertentu sehingga menimbulkan anggapan bahwa pembatasan inilah yang dimaksud dalam syari’at tanpa ada dalil umum yang menunjukkan pembatasan ini, maka termasuk bid’ah.
10. الغلو في العبادة بالزيادة فيها علي القدر المشروع والتشدد والتنطع في الإتيان بها بدعة
Ghuluww (berlebih-lebihan) dalam ibadah dengan menambah di atas batasan yang telah ditentukan atau tasyaddud (mempersulit diri) serta tanaththu’ (memberatkan diri) dalam pelaksanaan ibadah tersebut adalah bid’ah.
2. Keluar menentang aturan agama.
Hal ini meliputi beberapa kaidah berikut ini:
1. كل ما كان من الإعتقادات والاراء و العلوم معارضا لنصوص الكتاب والسنة أو مخالفا لإجماع سلف الامة فهو بدعة
Setiap keyakinan, pendapat atau ilmu yang menentang nusush (Al-Kitab dan As-Sunnah) atau berlawanan dengan ijma’ salaful ummah maka itu semua adalah bid’ah.
2. مالم يرد فى الكتاب والسنة ولم يؤثر عن الصحابة رضي الله عنهم من الاعتقاد فهو بدعة
Keyakinan yang tidak ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah serta tidak didapatkan dari sahabat adalah bid’ah.
3. الزام الناس بفعل شيئ من العادات والمعاملات وجعل ذلك كالشرع الذى لايخالف والدين لايعارض بدعة
Mewajibkan manusia untuk melakukan suatu adat dan muamalat serta menjadikan hal itu seperti syari’at yang tidak boleh ditentang dan agama yang tidak boleh dibantah adalah bid’ah.
4. الخروج علي الاوضاع الدينية الثابتة وتغييرالحدود الشرعية المقدرة بدعة
Keluar menentang aturan-aturan agama, dan merubah sanksi-sanksi syar’i yang sudah ditentukan batasannya adalah bid’ah.
5. مشابهة الكافرين فيماكان من خصائصهم من عبادة أوعادة أو كليهما بدعة
Menyerupai orang-orang kafir dalam hal yang khusus bagi mereka, baik berupa ibadah, adat, atau keduanya adalah bid’ah.
6. الإتيان بشيئ من أعمال الجاهلية التي لم تشرع في الإسلام بدعة
Melakukan sesuatu dari amalan-amalan jahiliyyah yang tidak disyari’atkan di dalam Islam adalah bid’ah.
3. Peluang-peluang yang menggiring ke arah bid’ah
Hal ini meliputi beberapa kaidah-kaidah berikut ini:
1. إذا فعل ماهو مطلوب شرعا علي وجه يوهم خلاف ماهو عليه في الحقيقة فهو بدعة
Bila mengerjakan sesuatu yang dituntut secara syari’at, tetapi dengan cara yang dapat menimbulkan anggapan yang berbeda dengan keadaan sebenarnya maka hal itu termasuk bid’ah.
2. إذا فعل ماهو جائز شرعا علي وجه يعتقد فيه أنه مطلوب شرعا فهو ملحق بالبدعة
Bila suatu pekerjaan menurut syariat hukumnya jaiz (mubah), tetapi ia diyakini hukumnya sunnah atau wajib menurut syariat, maka ia termasuk bid’ah.
3. إذا عمل بالمعصية العلماءالذين يقتدي بهم علي وجه الخصوص وظهرت من جهتهم حتي أن المنكر عليهم لايلتفت إليه,بحيث يعتقد العامة أن هذه المعصية من الدين فهذا ملحق بالبدعة
Bila perbuatan maksiat dilakukan oleh ulama yang menjadi panutan dengan cara khusus, yang pada akhirnya orang-orang awam meyakini bahwa perbuatan maksiat ini termasuk bagian agama, maka hal seperti itu dikelompokkan dalam bid’ah.
4. إذا عمل بالمعصية العوام وشاعت فيهم وظهرت ,ولم ينكرها العلماء الذين يقتدي بهم وهم قادرون علي الإنكار,بحيث يعتقد أن هذه المعصية مما لابأس به فهذا ملحق بالبدعة
Bila perbuatan maksiat dilakukan oleh orang-orang awam sehingga mewabah dan tersebar di antara mereka sedangkan para ulama yang menjadi panutan tidak mengingkarinya, sehingga hal itu menimbulkan keyakinan orang awam bahwa perbuatan maksiat ini tidak apa-apa maka ini digolongkan bid’ah.
5. كلما يترتب علي فعل البدع المحدثة في الدين من الإتيان ببعض الأمورالتعبدية أو العادية فهوملحق بالبدعة, لأن ما أنبني علي المحدث محدث
Segala sesuatu yang terjadi dan timbul akibat pelaksanaan bid’ah muhdatsah di dalam agama, seperti melakukan beberapa hal yang sifatnya ibadah atau adat istiadat, maka itu semua dikelompokkan juga dalam bid’ah, sebab sesuatu yang dibangun di atas muhdats adalah muhdats juga.
البدعة: كل محدث جديد على غير مثال سابق
) معجم لغة الفقهاء -ج 1/ص 104(
Bid’ah ialah sesuatu yang diadakan, yang baru dengan tidak ada contoh yang mendahuluinya.
Dari kata bid’ah, terbentuklah lafadz al-Badi’ sebagai salah satu nama Allah swt yang berarti Pencipta sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Allah swt berfirman:
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (البقرة:117)
Allah Pencipta (yang sebelumnya tidak ada) langit dan bumi, dan bila dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" lalu jadilah ia.
Lafadz bid’ah juga digunakan oleh Allah swt untuk menjelaskan keberadaan Nabi Muhammad saw bahwa beliau bukanlah seorang bid’an (orang yang tidak didahului Rasul sebelumnya)
Allah swt berfirman:
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ [الأحقاف/9]
Katakanlah: "Aku bukanlah Rasul yang pertama ( tidak ada sebelumku) di antara rasul-rasul
Bid’ah dalam pengertian bahasa dibagi menjadi 2, bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang buruk (sayyi’ah). Jika ia sesuai dengan sunnah, maka itu yang baik tetapi jika bertentangan dengan sunnah maka itulah bid’ah yang buruk.
Ibnu Rajab berkata, “ Adapun yang terdapat dalam perkataan ulama’ salaf yang menganggap baik sebagian bid’ah dimaksudkan bid’ah dalam pengertian bahasa, bukan dalam pengertian istilah. Di antaranya perkataan Umar tatkala memerintahkan kaum muslimin untuk melaksanakan shalat tarwih pada bulan Ramadlan di satu tempat dengan dipimpin seorang Imam, maka beliau berkata:
Umar bin Khathab berkata:
[ نِعْمَت البِدْعة هذه ]
2. Menurut Istilah
a. Menurut Al-Jauhariy, bid’ah ialah:
الحدث في الدين بعدالاكمال
“Sesuatu yang baru dalam agama sesudah sempurna”.
b. Menurut Al-Fairuzabadiy, bid’ah ialah:
الحدث في الدين بعدالاكمال اومااستحدث بعدالنبي ص.م. من الاهواء الاعمال
“Sesuatu yang baru dalam agama sesudah sempurna, atau sesuatu yang baru diadakan sesudah Nabi saw, karena ingin memperturutkan hawa nafsu atau memperbanyak amal”.
c. Abu Syamah berkata:
وقد غلب لفظ البدعة على الحدث المكروه في الدين وهومالم يكن في عصرالنبي ص.م.ممافعله اواقر عليه اوعلم من قواعدشريعته
“Lafadz bid’ah itu biasa digunakan untuk menyebut sesuatu yang baru, yang dibenci di dalam agama; bid’ah ialah apa saja yang tidak ada pada masa Nabi saw, baik berdasarkan pelacakan terhadap apa yang ia perbuat atau yang ia tetapkan ataupun berdasarkan apa yang dapat diketahui dari kaidah-kaidah agamanya”.
d. Sebagian Ulama Hadis mengatakan:
البدعة هي الأمرالمحدث في الدين: عقيدة اوعبادة اوصفة للعبادة لم يكن عليهارسول الله ص.م.
“Bid’ah ialah urusan yang diada-adakan dalam agama, baik berupa aqidah, ibadah ataupun sifat ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw”.
e. Sebagian Ulama lagi mengatakan:
البدعة هي الزيادة في الدين اونقصان منه الحادثان بعدالصحابة بغيراذن من الشارع لاقولاولافعلاولاصريحاولااشارة ولايتناول العادات اصلا بل تقتصر على بعض الاعتقادات وبعض صورالعبادات
“Bid’ah ialah tambahan dalam agama atau pengurangan dari agama yang baru terjadi sesudah masa sahabat tanpa izin dari pembuat syari’at, tidak dengan perkataan, perbuatan, terang-terangan dan tidak pula dengan isyarat. Jadi ia tidak mencakup urusan-urusan adat sama sekali, tetapi terbatas pada sebagian urusan I’tiqad dan rupa-rupa ibadah”.
Dari ta’rif-ta’rif tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa bid’ah itu sesuatu yang baru dalam agama, baik berupa i’tiqad maupun ibadah atau sesuatu yang menyerupai ibadah, yang belum pernah ada atau belum pernah terjadi pada masa Nabi atau pada masa sahabat. Atau tambahan atau pengurangan dalam agama yang terjadi sesudah masa sahabat dengan tidak mendapat dukungan dari Allah atau Rasulullah, baik dukungan perkataan ataupun perbuatan, baik dukungan pernyataan ataupun isyarat. Bid’ah sama sekali tidak mencakup urusan adat. Ia hanya mencakup urusan i’tiqad dan ibadat.
Dengan perkataan lain, bid’ah ialah:
الأمرالدينى الذى لم يكن في عصرالنبي ص.م. ولافي عصرالصحابة
“Urusan agama yang pada masa Nabi dan pada masa sahabat tidak ada”.
Atau:
الأمرالدينى الذى لم يكن النبي صل الله عليه وسلم عليه واصحابه
“Urusan agama yang tidak diajarkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya”
Atau:
الأمرالدينى الذى لم يدل عليه دليل شرعي سواء اكان من الكتاب اومن السنة اومما اجتهد عليه الصحابة
“Urusan agama yang tidak ditunjukkan oleh dalil syara’, baik dari Al-Kitab, dari As-Sunnah ataupun dari hasil ijtihad para sahabat”.
C. UNSUR-UNSUR BID’AH
Suatu perkara dikatakan bid”ah jika terhimpun di dalamnya 3 unsur, yakni:
1. Al-ihdats sesuatu yang baru
Yang dimaksud dengan al-ihdats adalah mendatangkan, membuat-buat sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya.
Rasulullah saw bersabda.
فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة .(رواه أبو داود و غيره)
2. Sesuatu yang baru itu disandarkan pada ad-din (agama)
Rasulullah saw:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس فيه فهو رد
) صحيح البخاري - (ج 2 / ص 959(
"Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara dalam urusan (agama) kami ini yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak.”
Yang dimaksud dengan amruna (urusan kami) dalam Hadist di atas adalah amru ad-din (urusan agama) dan syari’atnya, sesuai dengan tugas diutusnya Rasulullah saw. Jadi, suatu perkara dikatakan bid’ah jika sesuatu yang baru tersebut disandarkan kepada syari’at dan dihubungkan dengan ad-din (agama) dalam salah satu sisinya. Makna tersebut bisa tercapai bila mengandung salah satu dari tiga unsur berikut ini. Pertama, perkara tersebut dilakukan dalam rangka ta’abbudi (beribadah) dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan. Kedua, perkara tersebut keluar/ menentang (aturan) agama. Ketiga, perkara tersebut juga mencakup segala hal yang dapat menggiring kepada terciptanya bid’ah baru.
Maka, hal-hal yang baru dalam masalah-masalah materi dan perkara-perkara dunia yang tidak menjadi tugas terutusnya Rasulullah saw, tidak termasuk bid’ah.
Dalam hal ini beliau mengatakan:
أنتم أعلم بأمور دنياكم) جامع الأحاديث - (ج 41 / ص 494(
“Kamu sekalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.”
Begitu juga perbuatan-perbuatan maksiyat dan kemungkaran-kemungkaran yang baru, yang belum pernah terjadi pada masa dahulu, bukan dikatakan bid’ah, kecuali jika ia dilakukan dengan tujuan atau cara yang menyerupai taqarrub kepada Allah swt atau ketika melakukannya bisa menyebabkan adanya anggapan bahwa hal itu termasuk bagian agama.
3. Hal yang baru tersebut tidak berlandaskan syari’at, baik secara khusus maupun umum.
Rasulullah saw bersabda:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد. (رواه مسلم)
"Barangsiapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami perintahkan (dalam agama), maka ia tertolak”
Dengan batasan ini maka tidak termasuk dalam pengertian bid’ah hal-hal baru yang berhubungan dengan agama yang mempunyai landasan syar’i yang umum ataupun yang khusus. Landasan syar’i yang umum adalah hal-hal yang ditetapkan melalui al-mashalih al-mursalah, seperti pengumpulan al-Qur’an oleh para sahabat. Adapun contoh yang khusus adalah pelaksanaan shalat tarawih secara berjamaah pada zaman Umar bin Khatab
D. DASAR-DASAR PENETAPAN BID’AH
Ada tiga dasar pokok untuk menetapkan semua macam bid’ah.
1. Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan.
Hal ini meliputi beberapa kaidah sebagai berikut:
1. كل عبادة تستند الى حديث مكذوب على رسول لله صعلم فهي بدعة
Setiap ibadah yang berlandaskan hadits maudhu’(palsu) yang disandarkan kepada Rasulullah adalah bid’ah.
2. كل عبادة تستند الى الرأي المجرد والهوى فهي بدعة كقول بعض العلماء أو العباد أو عادات بعض البلاد أو الحكايات والمنامات
Setiap ibadah yang berlandaskan pada pendapat semata dan hawa nafsu, maka itu bid’ah, seperti pendapat sebagian ulama atau ‘ubbad (ahli ibadah) atau kebiasaan sebagian daerah atau sebagian hikayat dan manamat (apa yang didapatkan di dalam tidur).
3. اذا ترك الرسول صعلم فعل عبادة من العبادات مع كون موجبها وسببها المقتضى لها قائما ثابتا والمنع منها منتفيا فان فعلها بدعة
Jika Rasulullah meninggalkan suatu ibadah, padahal faktor dan sebab yang menuntut adanya pelaksanaan itu ada dan faktor penghalangnya tidak ada, maka melaksanakan ibadah itu adalah bid’ah. Seperti mengumandangkan adzan untuk shalat Tarwih.
4. كل عبادات ترك فعلها السلف الصالح من الصحابة فان فعلها فهي بدعة
Semua ibadah yang tidak dilakukan oleh As-Salaf Ash-Shalih dari kalangan sahabat, maka melakukan perbuatan tersebut adalah bid’ah.
5. كل عبادة مخالفة لقواعد الشريعة ومقاصدها فهي بدعة
Semua ibadah yang bertentangan dengan kaidah-kaidah dan tujuan-tujuan syari’at adalah bid’ah.
6. كل تقرب الى الله بفعل شيئ من العادات أو المعاملات من وجه لم يعتبره الشارع فهو بدعة
Semua taqarrub kepada Allah dengan adat kebiasaan atau muamalah dari sisi yang tidak dianggap (tidak diakui) oleh syari’at adalah bid’ah
7. كل تقرب الى الله بفعل ما نهى عنه سبحانه فهو بدعة
Setiap taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah adalah bid’ah.
8. كل عبادة وردت فى الشرع على صفة مقيدة فتغييرهذه الصفة بدعة
Setiap ibadah yang dibatasi dalam syari’at, maka merubah tata cara (batasan) ini adalah bid’ah.
9. كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان ومكان أو نحوهما بحيث يوهن هذا التقييد أنه مقصود شرعا من غير أن يدل الدليل العام علي هذا التقييد فهو بدعة
Setiap ibadah muthlaq yang tetap dalam syari’at dengan dalil umum, maka membatasi kemuthlaqan ibadah ini dengan waktu atau tempat tertentu sehingga menimbulkan anggapan bahwa pembatasan inilah yang dimaksud dalam syari’at tanpa ada dalil umum yang menunjukkan pembatasan ini, maka termasuk bid’ah.
10. الغلو في العبادة بالزيادة فيها علي القدر المشروع والتشدد والتنطع في الإتيان بها بدعة
Ghuluww (berlebih-lebihan) dalam ibadah dengan menambah di atas batasan yang telah ditentukan atau tasyaddud (mempersulit diri) serta tanaththu’ (memberatkan diri) dalam pelaksanaan ibadah tersebut adalah bid’ah.
2. Keluar menentang aturan agama.
Hal ini meliputi beberapa kaidah berikut ini:
1. كل ما كان من الإعتقادات والاراء و العلوم معارضا لنصوص الكتاب والسنة أو مخالفا لإجماع سلف الامة فهو بدعة
Setiap keyakinan, pendapat atau ilmu yang menentang nusush (Al-Kitab dan As-Sunnah) atau berlawanan dengan ijma’ salaful ummah maka itu semua adalah bid’ah.
2. مالم يرد فى الكتاب والسنة ولم يؤثر عن الصحابة رضي الله عنهم من الاعتقاد فهو بدعة
Keyakinan yang tidak ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah serta tidak didapatkan dari sahabat adalah bid’ah.
3. الزام الناس بفعل شيئ من العادات والمعاملات وجعل ذلك كالشرع الذى لايخالف والدين لايعارض بدعة
Mewajibkan manusia untuk melakukan suatu adat dan muamalat serta menjadikan hal itu seperti syari’at yang tidak boleh ditentang dan agama yang tidak boleh dibantah adalah bid’ah.
4. الخروج علي الاوضاع الدينية الثابتة وتغييرالحدود الشرعية المقدرة بدعة
Keluar menentang aturan-aturan agama, dan merubah sanksi-sanksi syar’i yang sudah ditentukan batasannya adalah bid’ah.
5. مشابهة الكافرين فيماكان من خصائصهم من عبادة أوعادة أو كليهما بدعة
Menyerupai orang-orang kafir dalam hal yang khusus bagi mereka, baik berupa ibadah, adat, atau keduanya adalah bid’ah.
6. الإتيان بشيئ من أعمال الجاهلية التي لم تشرع في الإسلام بدعة
Melakukan sesuatu dari amalan-amalan jahiliyyah yang tidak disyari’atkan di dalam Islam adalah bid’ah.
3. Peluang-peluang yang menggiring ke arah bid’ah
Hal ini meliputi beberapa kaidah-kaidah berikut ini:
1. إذا فعل ماهو مطلوب شرعا علي وجه يوهم خلاف ماهو عليه في الحقيقة فهو بدعة
Bila mengerjakan sesuatu yang dituntut secara syari’at, tetapi dengan cara yang dapat menimbulkan anggapan yang berbeda dengan keadaan sebenarnya maka hal itu termasuk bid’ah.
2. إذا فعل ماهو جائز شرعا علي وجه يعتقد فيه أنه مطلوب شرعا فهو ملحق بالبدعة
Bila suatu pekerjaan menurut syariat hukumnya jaiz (mubah), tetapi ia diyakini hukumnya sunnah atau wajib menurut syariat, maka ia termasuk bid’ah.
3. إذا عمل بالمعصية العلماءالذين يقتدي بهم علي وجه الخصوص وظهرت من جهتهم حتي أن المنكر عليهم لايلتفت إليه,بحيث يعتقد العامة أن هذه المعصية من الدين فهذا ملحق بالبدعة
Bila perbuatan maksiat dilakukan oleh ulama yang menjadi panutan dengan cara khusus, yang pada akhirnya orang-orang awam meyakini bahwa perbuatan maksiat ini termasuk bagian agama, maka hal seperti itu dikelompokkan dalam bid’ah.
4. إذا عمل بالمعصية العوام وشاعت فيهم وظهرت ,ولم ينكرها العلماء الذين يقتدي بهم وهم قادرون علي الإنكار,بحيث يعتقد أن هذه المعصية مما لابأس به فهذا ملحق بالبدعة
Bila perbuatan maksiat dilakukan oleh orang-orang awam sehingga mewabah dan tersebar di antara mereka sedangkan para ulama yang menjadi panutan tidak mengingkarinya, sehingga hal itu menimbulkan keyakinan orang awam bahwa perbuatan maksiat ini tidak apa-apa maka ini digolongkan bid’ah.
5. كلما يترتب علي فعل البدع المحدثة في الدين من الإتيان ببعض الأمورالتعبدية أو العادية فهوملحق بالبدعة, لأن ما أنبني علي المحدث محدث
Segala sesuatu yang terjadi dan timbul akibat pelaksanaan bid’ah muhdatsah di dalam agama, seperti melakukan beberapa hal yang sifatnya ibadah atau adat istiadat, maka itu semua dikelompokkan juga dalam bid’ah, sebab sesuatu yang dibangun di atas muhdats adalah muhdats juga.
Sumber : Bahan MUSYTAR PWM DIY
kirim ke teman
versi cetak
komentar