Pelatihan Khotib dan Mubalikhaq Guru-guru SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta

kirim ke teman | versi cetak | komentar Kamis, 10 Desember 2009 - oleh : dwyx

Pada hari Selasa tanggal 8 Desember 2009  telah diselenggarakan pelatihan untuk menjadi khotif dan mubalikhaq. Pelatihan ini diselenggarakan oleh tim Ismuba SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta di bawah koordinator Wakaur Ismuba Drs. Suparlan. Pelatihan yang dilaksanakan di ruang media pendidikan berlangsung dari pukul 13.00 sampai 15.00 WIB.


Sebagai trainer adalah Bapak M. Yusron Asrofie, MAB.MA. Bapak kelahiran 21 Juli 1953 di Yogyakarta ini selain alumni IAIN juga pernah mengenyam pendidikan S-2 di Mesir. Saat ini beliau sebagai staf pengajar di Universitas Pembangunan Nasional. Sebagai motto dari hidupnya adalah “Hidup adalah ibadah dan perjuangan”.


Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 20 peserta dari guru dan karyawan serta  dua siswa. Kegiatan tersebut memiliki tujuan untuk membekali peserta agar mampu berdakwah secara baik dan benar di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.
Dari hasil pelatihan itu dapat disimpulkan, bahwa untuk menjadi pendakwah yang baik dan benar, maka diperlukan strategi-strategi tertentu. Bapak Yusron begitu panggilannya menyampaikan, bahwa ada beberapa strategi yang dapat diterapkan seperti dengan :


1.    Sistem kartu untuk mengutip ayat al-Quran dan hadis, dll (model presenter TV)
2.    Pemberian hands-out (selebaran), atau ringkasan isi materi.
3.    Makalah lengkap materi yang disajikan.
4.    Penggunaan multimedia.
5.    OHP (Overhead Projector)
6.    LCD (Laptop plus Proyektor), screen/layar atau tembok putih.
7.    Pembuatan tayangan Power Point.
8.    Penyajian potongan film dari VCD/DVD untuk bahan tabligh.
9.    Permainan untuk menyampaian materi atau menghilangkan kejenuhan.
10.    Selingan materi (ice-breaker, energizer, relaksasi, intermezzo)
11.    Penggunaan lagu/mars (penggunaan VCD/DVD Player plus Sound system yang memadai) Persiapan lagu/mars yang ingin dinyayikan bersama, kalau bisa bagikan teks lagu yang akan dinyanyikan bersama.

Kemudian, untuk penyampaian di depan forum atau di podium apa saja yang harus diperhatikan? Nah, untuk jawabannya silahkan simak di bawah ini :
1.    Niatkanlah berbicara di depan umum untuk menyampaikan materi itu dalam rangka beribadah.
2.    Berdoalah sebelum naik podium/mimbar, misalnya dengan doa sebagai berikut :

بسم اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

3.    Pakailah pembuka standar, yaitu  Hamdalah, syahadat, wasiyat taqwa,  dan shalawat.

كُلُ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ
السلسلة الصحيحة 1-3000 - (ج 1 / ص 168) سنن أبي داود  مشكول - (ج 12 / ص 470)


4.    Bukalah isi pembicaraan dengan membacakan ayat/hadis lebih dahulu atau dengan bercerita sesuatu hal yang menarik yang mengandung pelajaran berharga.
5.    Hindari pembukaan dengan mohon maaf terutama kalau nanti isinya tidak memuaskan. Atau mohon maaf karena tidak siap untuk berbicara.
6.    Hati-hati membuka isi ceramah dengan melucu, karena kalau lelucon itu gagal akan membuat orang tertawa , bisa-bisa pembicara menjadi salah tingkah.
7.    Sekarang ini sudah saatnya untuk memberi selingan penyegaran kepada para hadirin di tengah-tengah ceramah yang panjang atau terutama ketika hadirin sudah nampak capai atau bahkan mengantuk.

Selain strategi yang diperlukan, maka seorang pencermah perlu mempersiapkan struktur atau sistematika ceramah, misalnya:
1.    Pokok-pokok masalah, yang digunakan untuk menyampaikan hal-hal yang akan dibicarakan pada aspek-aspek penting.
2.    Uraian atas pokok-pokok masalah secara detail, disertai dalil-dalil dan bukti-bukti (argumen) pendukung.
3.    Jika diperlukan contoh aktual (jika berkaitan kasus-kasus khusus dan sensitif, apakah dalam hal kebaikan atau sebaliknya) perlu dilakukan secara bijak.
4.    Simpul-simpul isi materi : mengulangi pelajaran-pelajaran penting yang bisa dijadikan pedoman hidup (kognitif-afektif) dan pedoman dalam berbuat (psikomotorik). Penyebutan simpul dapat dilakukan dengan mengajak bersama-sama dengan para jamaah dalam menyebutkan simpul-simpul tersebut.

Untuk unsur-unsur penting yang diperlukan dalam ceramah adalah :
1.    Taswir (penggambaran atau deskripsi masalah dan realitas),.
2.    Ta’sil (bahasa sederhana mengembalikan persoalan kepada dasar-dasar ajaran Islam, al-Quran dan Sunnah).
3.    Tarsyid (setelah melihat gambaran masalah yang ada, dan dasar-dasar ajaran, maka harus dikemukakan arah dan petunjuk yang harus diambil dalam mengarungi hidup).

 

Ditulis oleh Dwi Kurniatun, S.Pd (dwy’x)
Sumber : Hasil pelatihan dan hand out yang ditulis oleh M. Yusron Asrofie, MAB. MA