Kugenggam Dunia Yang Membuatku Gelisah ?
kirim ke teman | versi cetak | komentar | Rabu, 06 Januari 2010 - oleh : dwyx |
Dr. Harldson Hoffen, seorang dokter di sebuah rumah sakit, suatu ketika mempresentasikan hasil risetnya di depan lembaga Amerika untuk para dokter, ahli bedah dan kalangan industriawan. Saat itu ia mengatakan bahwa ia telah meneliti kondisi seratus tujuh puluh enam pekerja. Usia mereka rata-rata empat puluh empat tahun. Ternyata lebih dari sepertiga para pekerja itu menderita satu dari tiga penyakit yang disebabkan oleh ketegangan saraf. Tiga penyakit itu adalah kerusakan jantung, infeksi lambung dan tekanan darah. Yang demikian itu terjadi saat mereka belum sampai empat puluh lima tahun. Apakah orang yang membayar keberhasilannya dengan infeksi lambung dan kerusakan jantung bisa dianggap sebagai orang yang sukses? Apa gunanya mengumpulkan dunia dengan mengorbankan kesehatannya? Walaupun seseorang memiliki dunia seluruhnya, dia tidak dapat tidur kecuali di atas satu tempat tidur saja. Dia pun tidak bisa makan kecuali tiga kali sehari. Lalu apa bedanya antara dia dengan kuli bangunan? Bahkan boleh jadi para kuli bangunan itu bisa tidur lebih nyenyak dan lebih lahap menikmati makanan ketimbang para bisnisman yang memiliki kedudukan.
Dr. W.S. Fritz mengatakan : “Empat dari lima orang yang sakit tidak disebabkan oleh kerusakan fisik, tetapi penyakit mereka ditimbulkan oleh ketakutan, gelisah, kebencian, ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan kehidupan, dan lain-lain” (DR. Aidh al-Qarni:139-140).
Tahun 2010 sudah enam langkah memasuki gerbang kehidupan kita. Saatnya bagi kita untuk menata kembali segala kekurangan dan kesalahan di masa lalu. Secara bijak kita harus tegas untuk meresolusikan kepada diri kita sendiri bahwa “kita akan hidup bagai seribu tahun lagi dan akan mati sedetik kemudian”. Bekerja sebisa kita berusaha dan beribadah selagi kita bisa. Semua harus bermuara kepada ALLAH SWT saja tidak lain dan tidak bukan.
Disunting, ditulis, dan diedit oleh Dwi Kurniatun, S.Pd (dwy’x)
bersumber dari buku “Menjadi Wanita Paling Bahagia” karya DR. Aidh al-Qarni
bersumber dari buku “Menjadi Wanita Paling Bahagia” karya DR. Aidh al-Qarni
kirim ke teman
versi cetak
komentar